Umat Hindu menyelenggarakan upacara Prayascita Gumi. Hal itu untuk menenangkan batin dan menyelaraskan manusia dengan alam. Dengan demikian, mereka bersemangat untuk bangkit dan kembali menata kehidupan.

Waktu menunjukkan pukul 14.00 Wita saat umat Hindu berdatangan di Catus Pata atau Perempatan Cakranegara, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Jumat (7/9/2018). Sore itu, mereka akan mengikuti upakara atau upacara Prayascita Gumi.

Semua orang terlihat rapi dalam balutan pakaian sembahyang umat Hindu. Laki-laki mengenakan udeng di kepala, jas atau baju berwarna putih, serta bawahan kamen (kain yang membalut dari pinggang sampai kaki). Para perempuan memakai kebaya warna putih dan bawahan kamen. Mereka datang sambil membawa banten atau persembahan untuk upacara itu.

Mereka meletakkan persembahan di meja yang disediakan. Ada juga yang meletakkan di bawah sanggar, tempat pemujaan para dewa, yang terletak di tengah perempatan.
Warga yang baru datang menyalakan dupa dan berdoa. Kemudian mereka duduk di bawah tenda atau lesehan di jalan.

Semakin sore, empat penjuru Catus Pata semakin padat oleh umat Hindu yang datang dari seluruh wilayah di NTB, baik Pulau Lombok maupun Pulau Sumbawa, termasuk Bali. Panitia memperkirakan, peserta upacara lebih dari 50.000 orang.

Hangatnya kekeluargaan terlihat di tengah suasana yang belum sepenuhnya pulih pascagempa bumi yang mengguncang Lombok sejak Minggu (29/7) dan terbesar pada Minggu (5/8) dengan kekuatan magnitudo 7,0. Mereka saling bertegur sapa, berbincang, dan bercanda sambil menunggu prosesi Prayascita Gumi dimulai.

Sejumlah anggota panitia berkeliling sambil membawa tas keresek. Dari pengeras suara terdengar ajakan untuk memberikan donasi bagi korban gempa Lombok. Peserta upacara pun langsung mengeluarkan uang dan memasukkan ke tas keresek. Satu jam kemudian diumumkan, donasi yang terkumpul sekitar Rp 68 juta. Pengumuman disambut tepuk tangan peserta upacara.

”Donasi akan kami serahkan ke Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) NTB untuk disalurkan ke warga korban bencana,” kata Ketua Panitia Prayascita Gumi Anak Agung Ketut Agung Oka Karta Wirya.

Setelah acara formal, seperti sambutan ketua panitia dan Sekretaris PHDI NTB Ida Wayan Oka Santosa, upacara dimulai. Pukul 18.00 Wita, puncak upacara berlangsung dipimpin lima pedanda, tokoh agama Hindu. Umat duduk bersila, memejamkan mata, menangkupkan tangan dan meletakkan di atas kepala. Mereka dengan khusyuk berdoa kepada Sang Penguasa alam semesta.

Di akhir acara, peserta upacara berebut mendapatkan caru, butiran beras yang telah disucikan, serta air suci. Mereka percaya, menyimpan benda-benda itu di rumah akan menjaga keluarga dari bencana.

Kembali harmonis

Menurut Agung, upacara yang diselenggarakan PHDI NTB bersama Puri Pamotan Cakranegara (tempat tinggal keturunan Raja Lombok di Cakranegara), bertujuan mengharmoniskan kembali alam dengan segala isinya. Itu sesuai keyakinan agama Hindu, yaitu Tri Hita Karana, yang meliputi hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan sesama manusia, dan hubungan manusia dengan alam lingkungannya.

Upacara itu, menurut Agung, diputuskan untuk dilaksanakan setelah mereka menelaah kembali kitab suci atau sastra agama Hindu dalam bentuk lontar. Dalam lontar disebutkan, jika negara atau dunia dilanda bencana alam atau lainnya, mereka diamanatkan untuk mengadakan upacara yang dapat menenangkan batin umat manusia.

”Gempa dirasakan dampaknya secara menyeluruh dan banyak memakan korban. Itu pertanda alam mengingatkan kita untuk introspeksi diri. Umat Hindu merasa prihatin dan bertanggung jawab sehingga Prayascita Gumi diselenggarakan,” kata Agung.

Ida Oka menambahkan, Prayascita Gumi sekaligus untuk menenangkan mental dan psikis masyarakat Lombok dan NTB pascagempa. Dengan begitu, mereka bisa bangkit kembali. Upacara itu sekaligus memberikan kekuatan spiritual bagi alam semesta agar kuat, harmonis, dan tidak membawa musibah lagi bagi umat manusia.

Warga yang datang, baik yang tinggal di daerah tidak terdampak maupun yang rumahnya rusak, mengatakan merasa jauh lebih tenang setelah mengikuti upacara tersebut.

Made Darma Yasa (36) dan Made Suparta (48) yang menjadi pecalang (satuan pengamanan tradisional masyarakat Hindu) di Tanjung, Lombok Utara, mengatakan, saat ini mereka sebenarnya tengah fokus pada pemulihan rumah pascagempa.

”Tetapi, kami merasa harus datang untuk bertemu saudara sesama umat Hindu, saling menguatkan, dan bersama-sama berdoa. Saya berharap gempa tidak terjadi lagi sehingga kami bisa fokus memulai kehidupan baru,” kata Made Suparta.

Upaya untuk bangkit kembali pascagempa dilakukan semua pihak. Pemerintah Provinsi NTB mengampanyekan semangat NTB Bangun Lagi. Pemerintah pusat mengambil alih penanganan pemulihan pascagempa dengan mempercepat perbaikan rumah warga, fasilitas umum, dan pendidikan.

Lembaga kemanusiaan yang berkegiatan di banyak wilayah terdampak terus bergerak memulihkan kondisi psikis warga dan membangun hunian sementara. Pelaku pariwisata tak henti mempromosikan pariwisata Lombok yang mulai menggeliat dan siap dikunjungi kembali.

Gempa Lombok tercatat mengakibatkan 555 orang meninggal, 1.416 orang luka, 390.529 orang mengungsi, serta lebih dari 76.000 rumah, 1.200 fasilitas umum, dan tempat ibadah rusak.

Meski masih banyak yang tinggal di pengungsian, warga mulai melakukan aktivitas ekonomi, misalnya berdagang, ke sawah, berkebun, beternak, hingga berlayar. Mereka juga membangun rumah sementara dan meninggalkan tenda terpal.

”Kalau diam terus di pengungsian kapan berhenti traumanya? Kami harus kembali ke rutinitas. Kami harus belajar bersahabat dengan alam karena tinggal di zona merah jalur gempa,” tutur Nasrun (53), nelayan di Jambianom, Desa Medana, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara. (ZAK/RUL/JUM)

Sumber: Harian KOMPAS | 12 September 2018

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *