Pura Parahyangan Agung Jagatkartta punya arti alam dewata yang sangat sempurna kesuciannya. Pura terbesar di Jawa Barat itu istana Prabu Siliwangi dan leluhur di Jawa Barat, yang setiap minggunya banyak dikunjungi peziarah dari Bogor. Bahkan, dari luar Jawa Barat. Jaraknya sekitar 12 kilometer dari Gerbang Tol (Kota) Bogor Jagorawi.

Begitu kutipan di lembar informasi “Kawasan Wisata Terpadu Tamansari” keluaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bogor tahun 2009. Mengunjungi pura itu, Sabtu (20/5) pagi, selain menjumpai rombongan kecil wisatawan dari Eropa, juga ada empat turis dari Thailand serta satu keluarga dari Lampung. Selain wisatawan Eropa itu, pengunjung bersembahyang sesuai tata cara Hindu.

“Pura ini memang tempat sembahyang dan perayaan keagamaan umat Hindu. Ada juga yang datang bukan umat Hindu, tetapi berdoa untuk para leluhur Pasundan. Banyak juga sebagai wisatawan. Saat ini hanya yang akan melaksanakan sembahyang yang bisa sampai pelataran utama,” kata Jero Mangku Made Sadnya (72).

Perempuan pemimpin sembahyang itu dari kelompok Yogi Swastika Abiyosah (kelompok sembahyang anak muda Hindu yang berpusat di Tabanan, Bali). Ia merintis membangun pura itu bersama suaminya, Made Sadnya, setelah membeli lahan di kawasan kaki Gunung Salak pada 1981. Pasangan asal Bali yang dulu anggota TNI itu membeli lahan di sana tanpa perencanaan membangun “pura gunung”.

Lahan itu berlokasi di Kampung Warung Loa, Desa Tamansari, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. Harga waktu itu Rp 3,25 juta, yang dananya dari menjual lahan di Pondok Gede (Jakarta Timur) dan Vespa buatan tahun 1974. Setelah tanah terbeli karena jatuh hati dengan alamnya yang asri di kaki gunung, ia mendirikan rumah panggung yang kemudian dijadikan tempat persembahyangan.

Belakangan, anggota Yogi Swastika Abiyosah yang ikut berkunjung turut sembahyang. Persembahyangan lalu dilakukan di alam terbuka dan di tempat yang lebih tinggi, hingga tahun 1982 mereka menemukan batu alam sangat besar yang terdapat sesaji dupa lengkap dengan bunga setaman dan liong atau cerutu.

Atas temuan itu, pasangan muda Made Sadnya pun bertanya kepada para tokoh setempat, salah satunya H Idris. “Dari penuturan beliau, yang sudah almarhum, dan para sesepuh masyarakat di sini, kami baru tahu lokasi itu diyakini tempat ngahiang (moksa/menghilang) Prabu Siliwangi, salah satu Raja Padjadjaran termasyhur. Kerajaan Padjadjaran adalah kerajaan Hindu. Kami meyakini Prabu Siliwangi adalah leluhur Pasundan yang juga leluhur kami, umat Hindu,” ujar Jero Mangku Made Sadnya.

Saat itu, umat Hindu di Jakarta sudah memiliki Pura Segara (Pura Laut) di Cilincing, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Mulailah anak-anak muda Yogi Swastika Abiyosah membicarakan kemungkinan melengkapi dengan Pura Gunung. Didahului berembuk dan minta pendapat tokoh masyarakat, anak-anak muda tadi merintis membuat Pura Gunung di kaki Gunung Salak di Tamansari, di mana ada petilasan Prabu Siliwangi.

Izin mendirikan Pura Gunung diperoleh dari Pemerintah Kabupaten Bogor pada 1995. Yang pertama dibangun Candi Siliwangi, sebagai penghormatan kepada leluhur, yang jadi tradisi umat Hindu. Saat itu, mereka juga bingung bagaimana bentuk candi umat Hindu di Tanah Pasundan. Sebab, tak mungkin meniru candi di Jawa Tengah atau di Bali.

Pencarian dan riset akhirnya menemukan satu-satunya candi Hindu tersisa di Garut, yaitu Candi Cangkuang. Mereka lalu membangun Candi Siliwangi seperti Candi Cangkuang, tetapi ukurannya lebih tinggi.

“Jadi, Candi Siliwangi ini bentuknya khas, beda dengan candi- candi Hindu lainnya. Candi juga dijaga arca harimau Siliwangi, hitam dan putih. Banyak umat dan juga mereka yang meyakini kejayaan Padjadjaran, saat bersembahyang di Candi Siliwangi mengalami peristiwa gaib kerohanian, termasuk melihat kehadiran harimau Siliwangi,” tutur Jero Mangku Made Sadnya.

Budayawan Bogor Rd Ace Sumanta mengatakan, menurut literatur lokal, ngahiang Prabu Siliwangi di daerah Badigul Rancamaya, lalu pasukannya menyebar ke berbagai wilayah. Soal pembangunan pura di lereng Gunung Salak belum ada literatur pasti yang mengatakan di sanalah ngahiang Prabu Siliwangi. Namun, memang ada umat Hindu Bali yang punya lahan di sana.

Ada tiga sudut pandang menuju Gunung Salak, yakni dari arah Tamansari, Sukabumi, dan Pamijahan. “Ketiga wilayah itu bekas alis tapak atau tatapakan Prabu Siliwangi menuju Puncak Gunung Salak. Sebelum letusan dahsyat, gunung ini bernama Gunung Buleud. Sang Raja banyak ngawangsit alias banyak melahirkan ide, gagasan, pancasona, ageman, hingga ajaran saat berada di gunung itu,” katanya.

Menurut Ace, tidak mengherankan jika Bogor jadi pusat penyebaran agama Hindu terbesar di Jawa karena Kerajaan Padjadjaran adalah kerajaan Hindu. Di sisi lain, salah satu Raja Majapahit di Jawa Tengah, yakni Raden Wijaya, yang kekuasaannya juga sampai Bali, adalah keturunan Kerajaan Pakuan Padjadjaran. Sah, jika orang Bali mengaku leluhurnya juga dari Tanah Pasundan.

Proses dan makna

Banyak sumber dan pendapat mengenai Prabu Siliwangi, baik berdasarkan literatur ilmiah maupun cerita lisan turun-temurun. Yang pasti, Candi Siliwangi dibangun penuh penghormatan kepada Sang Prabu. Semua batu hitam dan seniman ukir/pahat didatangkan langsung dari Bali. Batu besar-besar itu diangkut lima truk dan dibawa ke lokasi candi saat ini menggunakan tenaga manusia.

Setelah dibangun sekitar setahun, dibangun bale (tempat sembahyang) Padma. Lalu, dibangun bale dan fasilitas lain yang semua dilakukan bertahap dengan dana sumbangan umat, sesuai dengan tata cara Hindu.

Pura Parahyangan Agung Jagatkartta dibangun dengan konsep Trimandala, yang berarti memiliki tiga tingkat derajat kesucian, yakni Nista Mandala (jaba pisan) atau zona terluar pintu masuk dari luar, Madya Mandala (jaba tengah) atau zona tempat aktivitas umat dan fasilitas pendukung, dan zona ketiga adalah Utama Mandala (jaba jero), areal paling suci di kompleks pura.

Menurut Jero Made Mangku Sadnya, tahun 2005, sekitar 30 tahun sejak dirintis, pura diresmikan sebagai pura umum. Kompleks peribadatan umat Hindu Bali itu diberi nama resmi Pura Parahyangan Agung Jagatkartta Tamansari Gunung Salak. Kini, dengan luas lahan sekitar 4 hektar, menjadi pura Hindu terbesar kedua di Indonesia setelah Pura Besakih di Bali. Sejumlah upacara keagamaan Hindu dilakukan di sana. Pada 5 September 2017 akan berlangsung perayaan ulang tahun pura.

Kehadiran pura di Tamansari itu, kata penggiat pelestari budaya Dewi Djukardi, jadi salah satu bukti kebinekaan dan nilai penghormatan kepada leluhur. “Di Tanah Pasundan yang kini dominan beragama Islam, umat lain dapat beribadah tenang. Tetap ada penghormatan tinggi kepada raja-raja Padjadjaran. Dan, karena keunikan budaya Hindu Bali, kehadirannya juga jadi daya tarik wisata,” tuturnya.

sumber: Harian KOMPAS | 22 Mei 2017

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *